VITAMIN A DAN OBAT CACING DIBERIKAN GRATIS

CAMPAKAMULYA__ Februari merupakan bulan Vitamin A untuk anak balita, dibulan ini, Puskesmas Campakamulya memberikan Vitamin A secara cuma-cuma kepada sasaran yang dilaksanakan di tiap Posyandu. Pentingnya konsumsi Vitamin A dan obat cacing diusia dini menjadi perhatian yang serius. Pemberian Vitamin A diberikan dua kali dalam setahun tiap bulan Februari dan Agustus. pemberian suplemen Vitamin A pada anak dengan kelompok umur 6-59 bulan dengan dosis yang berbeda, dimana anak usia 6-12 bulan diberi warna biru dan diatas 12-59 bulan warna Merah. Sedangkan untuk pemberian obat cacing diberikan untuk usia 1-12 tahun bagi anak pra sekolah samapai dengan sekolah yang diberikan tiap tahun dengan dosis untuk anak usia 1-2 tahun 200 mg dan usia lainnya sampai 12 tahun diberi 400 mg.

Kegiatan pemberian Vitamin A bulan Februari berbarengan dengan pemberian obat cacing. adpun tempat pelaksanaan pemberian Vitamin A dan obat Cacing di Posyandu, PAUD dan Sekolah tingkat Dasar (SD/MI) dalam wilayah Kecamatan Campakamulya. 

Kecacingan secara umum mengakibatkan kerugian langsung oleh adanya gangguan intake makanan, pencernaan, penyerapan serta metabolismenya, sehingga secara kumulatif infeksi cacing pada anak menimbulkan kekurangan gizi (kalore dan protein) serta kehilangan darah dengan akibat akhir adalah hambatan perkembangan fisik, kecerdasan, produktifitas kerja serta menurunkan ketahanan tubuh.

Pemberian Vitamin A perlu diiringi dengan pemberian obat cacing agar penyerapan zat gizi pada balita sempurna dan dapat meningkatkan status gizi masyarakat, kecacingan pada anak akan menimbulkan masalah kesehatan berupa kekurangan gizi yang bersifat kronis yang apa akhirnya dapat meningkatkan resiko kesakitan. (Boed/FKGSC).


Harewos Si Cepot: Stop Generasi Stunting di Indonesia

Stunting terjadi akibat kekurangan gizi berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga 2 tahun pertama kehidupan seorang anak. Riskesdas 2010 meyebutkan bahwa 35,6% balita  di Indonesia mengalami masalah stunting, artinya hampir separuh balita kita memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar tinggi badan balita seumurnya.

Sungguh disayangkan, masyarakat kita masih belum menyadari masalah ini karena memang anak pendek umum terlihat di masyarakat sebagai anak-anak dengan aktivitas yang normal, tidak seperti anak kurang gizi. Padahal tahukah anda bahwa stunting pada anak dapat berakibat fatal bagi produktivitas mereka dimasa dewasa? Penelitian membuktikan bahwa kemampuan membaca anak yang pendek lebih rendah dibandingkan anak normal, dan pada saat mereka dewasa produktivitas anak yang pendek lebih rendah dibandingkan dengan anak yang normal (Martorell, 2007).

Upaya advokasi diharapkan dapat membuka wawasan para pengambil kebijakan untuk membuka peluang upaya pelaksanaan program pencegahan dan penanggulangan masalah stunting. Advokasi juga ditujukan pada pemuka masyarakat untuk membantu pendekatan pada masyarakat dalam membangun kesadaran pentingnya pemenuhan gizi terutama pada ibu hamil dan bayi hingga usia 2 tahun. Advokasi baru menjadi langkah awal dan tidak mungkin langsung merubah keadaan menjadi lebih baik, butuh proses serta komitmen dari semua pihak yang bersinggungan dengan masalah stunting sehingga kita siap membangun generasi yang lebih baik dan siap menyongsong masa depan. (boed/Fk GSC)

CAMAT CAMPAKAMULYA